PERENCANAAN PROGRAM PEMBELAJARAN DAN MODEL DESAIN PEMBELAJARAN
Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Perencanaan
dan Desain Pembelajaran MI
Pada STITMA Tuban
Dosen Pengampu :
NINIK HIDAYATI, S.Pd.I., M.Pd.
Disusun oleh :
1. MOKH. ROKHIM 2. MUALLIMAH
3. NURIYATI 4. M. AGUS ULIN NUHA
5.
JAUHAROTUL M. 6. SOLIKIN
7.
M. NUR 8. EFFI DWI FARIDAWATI
9.
MURNI 10. SYAHMATUN
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MAKHDUM IBRAHIM
(STITMA) TUBAN
PROGRAM
PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
SEMESTER GENAP
TAHUN AKADEMIK
2015-2016
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menyusun perencanaan dan desain
pembelajaran, merupakan langkah penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai
secara efektif. Oleh karena itu kami rasa perlu memahami hakikat dari
perencanaan pembelajaran sebagai pengenalan awal sebelum Kita menyusun rencana pembelajaran bagi
peserta didik Kita.
Dalam makalah ini, kami mengupas hal-hal yang
berkaitan dengan hakikat perencanaan pembelajaran dan desain instruksional. Kami berharap makalah ini dapat
membantu kita yang ingin memahami lebih dalam hakikat dari perencanaan
pembelajaran.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian dari
perencanaan pembelajaran ?
2.
Apa manfaat perencanaan
pembelajaran ?
3.
Apa Pengertian
Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran ?
4.
Apa Dasar
Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran ?
5.
Apa Pengertian
Desain Pembelajaran ?
6.
Apa Pengertian
Desain Instruksional ?
7. Sebutkan
Model-model Desain Instruksional ?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui pengertian dari perencanaan pembelajaran ?
2.
Untuk mengetahui Pengertian Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran ?
3.
Untuk mengetahui Pengertian Desain Pembelajaran ?
4.
Untuk mengetahui Pengertian Desain Instruksional ?
5. Untuk
mengetahui Model-model Desain Instruksional ?
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A. Pengertian
Menurut Wina Sanjaya ( 2008:23 ) pertama, perencanaan berasal dari kata rencana yaitu
pengambilan keputusan tentang apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan
demikian, proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang
akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian
menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Kedua, pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerjasama antar guru dan
siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensi yang
bersumber dari diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat dan kemampuan dasar
yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada diluar diri siswa
seperti lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagai upaya mencapai tujuan
belajar tersebut.
Dari pendapat diatas maka kami menyimpulkan
perencanaan pembelajaran adalah penentuan tujuan dan menetapkan langkah-langkah
untuk mengembangkan minat, bakat dan kemampuan dasar serta potensi akademik
yang ada didalam diri peserta didik sebagai tujuan utama dari perencanaan
pembelajaran.
B. Pentingnya Perencanaan
Pembelajaran
Bagi seorang profesional, merencanakan sesuai dengan
tugas dan tanggungjawab profesinya merupakan tahap yang tidak boleh
ditinggalkan. Menurut Deshimer ( dalam Wina Sanjaya, 2008: 30 ).
Perencanaan sangat penting sehingga dibutuhkan dalam
pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal berikut :
Pertama,
pembelajaran adalah proses yang bertujuan.
Kedua,
pembelajaran adalah proses kerja sama.
Ketiga,
proses pembelajaran adalah proses yang kompleks.
Keempat,
proses akan lebih efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana prasarana yang
ada termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar.
C. Manfaat Perencanaan Pembelajaran
a. Dengan perencanaan yang
matang dan akurat, akan dapat diprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan
dicapai.
b. Sebagai alat untuk
memecahkan masalah.
c. Untuk memanfaatkan
berbagai sumber belajar secara tepat.
d. Perencanaan akan
membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis.
2. PENGEMBANGAN PROGRAM PERENCANAAN
PEMBELAJARAN
A. Pengertian Pengembangan Program Perencanaan
Pembelajaran
Pengembangan
mengandung pengertian cara membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan
sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif, dan sebagainya (Husein dan
Rahman,1997:28). Selanjutnya pengembangan sistem mengandung maksud cara membuat
penjabaran, pelengkapan komponen sistem agar setiap komponen tumbuh (dalam
Husein dan Rahman,1997:28). Seterusnya Ely mengemukakan pendapatnya bahwa
pengembangan sistem pembelajaran berarti suatu proses secara sistematis dan
logis untuk mempelajari problem-problem pembelajaran agar mendapat pemecahan
yang teruji validitasnya, dan praktis bisa dilaksanakan (dalam Husein dan
Rahman,1997:28).
Istilah yang
berhubungan dengan pengembangan pembelajaran ialah sistem instruksional dan
disain instruksional. Menurut Baker (dalam Husein dan Rahman,1997:28), sistem
instuksional adalah semua materi (konsep) pembelajaran dan metode yang telah
diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan yang
sebenarnya. Adapun yang dimaksud dengan disain instuksional adalah adalah
keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan serta pengembangan teknik
mengajar dan materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam
kegiatan ini termasuk pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji
coba, revisi, dan kegiatan evaluasi hasil belajar (Briggs dalam Husein dan
Rahman,1997:28).
Jadi dapat
disimpulkan bahwa antara pengembangan program perencanaan pembelajaran
dengan sistem instruksional dan desain instruksional ada kesamaan dan
keterkaitan. Pengembangan program perencanaan pembelajaran menekankan pada
proses yang sistematis dan logis. Sistem instruksional menekankan pada materi
dan metode; dan desain instruksional menekankan pada kebutuhan, tujuan, teknik,
materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Keterkaitan ini mengarah
pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu tujuan pembelajaran.
B. Dasar Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran
Pengembangan
system perencanaan pembelajaran didasarkan atas empiris dan prinsip yang telah
teruji.
1. Empiris
Pengembangan berdasarkan empiris berarti pengembangan yang
berdasarkan pengalaman. Untuk pemerolehan pengalaman, banyak kegiatan yang
telah dilakukan orang. Dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain dapat
kita jadikan dasar untuk mengembangkan program perencanaan pembelajaran.
2. Prinsip yang Telah Teruji
Prinsip yang telah teruji senantiasa melalui langkah prosedur yang
sistematis, pengamatan yang tepat, dan percobaan terkontrol.
a. Prosedur yang Sistematis
Prosedur yang dimaksud adalah suatu tahap kegiatan untuk
menyelesaikan suatu aktivitas. Aktivitas ini dilaksanakan langkah demi langkah
secara pasti dalam memecahkan suatu problem. Sistematis berarti satu langkah
dengan langkah lainnya berhubungan saling berpengaruh, saling mendukung yang
memungkinkan aktivitas itu berjalan lancar. Misalnya menentukan tujuan sampai
pada evaluasi.
b. Pengamatan yang Tepat
Hasil pengamatan yang terkontrol dapat dijadikan dasar pengembangan
sistem perencanaan pembelajaran. Hal ini memungkinkan karena pengamatan
adalah pengawasan terhadap perbuatan (kegiatan, keadaan) orang lain;
penelitian, perbuatan mengamati dengan penuh. Hasil pengamatan yang relevan
diantaranya ialah pengamatan terhadap kebutuhan siswa dalam kemampuan menulis.
Kesimpulan hasil pengamatan dapat dijadikan dasar pengembangan program
perencanaan, yaitu diantaranya dalam hal perencanaan tujuan, bahan, teknik,
media/alat dan evaluasi.
c. Percobaan Terkontrol
Percobaan tergolong kepada kegiatan penelitian. Percobaan yang
dapat dijadikan dasar pengembangan sistem perencanaan pembelajaran ialah
percobaan yang terkontrol. Ilustrasi tentang tingkat perkembangan kemampuan
berpidato dua kelompok warga belajar keturunan asing. Kelompok pertama diberi
pelajaran dengan menggunakan metode elektrik dan metode terjemahan dengan
dibantu media video kaset dapat berpidato dengan frekuensi kata rata-rata 100
entri sedangkan kelompok kedua dengan menggunakan metose elektrik, dan metode
terjemahan tanpa dibantu media video kaset dapat berpidato dengan
frekuensi kata rata-rata 500 entri. Nantinya akan diperoleh kesimpulan bahwa
pengajaran Bahasa Indonesia bagi orang asing dengan menggunakan metode elektrik,
dan metode terjemahan dengan dibantu media video kaset lebih baik daripada
dengan menggunakan metode elektrik, dan metode terjemahan dengan tanpa dibantu
vieo kaset. Hal ini dapat dijadikan rekomendasi terhadap dasar pengembangan
sistem perencanaan pembelajaran.
3. HAKIKAT DESAIN
PEMBELAJARAN
A. Pengertian Desain
Pembelajaran
Desain
adalah sebuah istilah yang diambil dari kata design yang berarti
perencanaan atau rancangan. Ada pula yang mengartikan dengan “Persiapan”. Di
dalam ilmu manajemen pendidikan atau ilmu administrasi pendidikan, perencanaan
disebut dengan istilah planning yaitu “Persiapan menyusun suatu
keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan
suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu”. Herbert
Simon (Dick dan Carey, 2006), mengartikan desain sebagai proses pemecahan
masalah. Tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam
memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia.
Dengan
demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu
persoalan. Melalui suatu desain orang bisa melakukan
langkah-langkah yang sistematis untuk memecahkan suatu persoalan
yang dihadapi. Dengan demikian suatu desain pada dasarnya adalah suatu proses
yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian
mengembangkan rancangan untuk merespons kebutuhan tersebut, selanjutnya
rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk
menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
Dalam
arti luas, pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan
sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) denga
peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menguasai kompetensi yang
telah ditentukan.Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau mahluk
hidup belajar. Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain
instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada
penyediaan sumber belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun
oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan
kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi
pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap
materi pembelajaran.
Pembelajaran
juga diartikan dengan usaha untuk memberdayakan semua potensi anak didik untuk
menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran harus mampu
mendorong untuk terbentuknya kemampuan, yaitu mengetahui, memahami, melakukan
sesuatu dan mengaktualisasikan diri.
Desain
pembelajaran sendiri menurut Shambaugh (2006) yang dikutip oleh Wina Sanjaya “Suatu
desain pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam
pembelajaran kemudian berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan
tersebut.” Sejalan dengan pengertian di atas, Gagne (1992) menjelaskan bahwa
desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, di mana proses
belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang.
4. DESAIN INTRUKSIONAL
A. Pengertian Desain
Intruksional
Intruksional
berasal dari kata intruction yang berarti pengajaran, pelajaran, atau
bahkan perintah/intruksi. Menurut Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH
intruksinal berarti memberi pengetahuan/informasi khusus dengan maksud melatih
berbagai bidang pengetahuan, dalam bidang pendidkan intruksional berarti
pengajaran/pelajaran. Menurut Ade Lukman S.Pd.I desaininstruksional adalah cara
yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi
seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Hasil akhir dari pengembangan instruksional ialah suatu sistem
instruksional, yaitu materi dan strategi belajar mengajar yang dikembangkan
secara empiris dan konsisten untuk dapat mencapai tujuan
instruksional tertentu.
Desain instruksional ini terdiri
dari seperangkat kegiatan yang meliputi perencanaan, pengembangan, dan evaluasi
terhadap sistem instruksional yang
sedang didesain, sehingga setelah mengalami beberapa kali
revisi, sistem instruksional tersebut dapat memuaskan hati pendesainnya. Dalam
konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang
sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan
bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan
sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi
keberhasilan.
Desain Instruksional sebagai upaya
untuk meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan pendekatan sistem
Instruksional. Pendekatan sistem dalam Instruksional lebih produktif untuk
semua tujuan Instruksional, di mana setiap komponen bekerja dan berfungsi
untuk mencapai tujuan Instruksional. Komponen seperti instruktur, peserta
didik, materi, kegiatan Instruksional, sistem penyajian materi, dan kinerja
lingkungan belajar saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mewujudkan hasil
Instruksional pebelajar yang dikehendaki.
Dari beberapa pengertian diatas, maka
desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan
siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yang di dalamnya mencakup
rumusan tujuan yang harus dicapai atau hasil belajar yang diharapkan, rumusan
strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik,
dan media yang dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau
menentukan keberhasilan evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan
pencapaian tujuan.
B. Model –Model Desain Instruksioanl
1. Model Kemp
Kemp merupakan model yang membentuk siklus.Model system
instruksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen mana
seharusnya guru memulai proses pengembangan. Komponen – komponen dalam suatu
desain instuksional menurut Kemp adalah :
1.
Hasil yang ingin dicapai
2.
Analisis tes mata pelajaran
3.
Tujuan khusus belajar
4.
Aktivitas belajar
5.
Sumber belajar
6.
Layanan pendukung
7.
Tes awal
8.
Karekteristik belajar
2. Model Banathy
Model ini memandang bahwa penyusupan system instruksional dilakukan
melalui tahapan-tahapan yang jelas.Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu
program pembelajaran yakni :
1.
Menganalisis dan merumuskan tujuan
2.
Merumuskan criteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak
dicapai
3.
Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar
4.
Merancang system
5.
Mengimplementasikan dan melakukan control kualitas system
6.
Mengadakan perbaiakn dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi
3. Model Dick and Carey
Model dick and Carey harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan
pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus
yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan
kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Criterion Reference Test, artinya
tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan
khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario
pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan
secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran
yang sesuai dengan tujuan. Langkah akhir dari desain ini adalah
melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatif dan evaluasi
sumatif. Langkah-langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah :
1.
Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran;
2.
Melaksanakan analisi pembelajaran;
3.
Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa;
4.
Merumuskan tujuan performansi;
5.
Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan;
6.
Mengembangkan strategi pembelajaran;
7.
Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran;
8.
Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif;
9.
Merevisi bahan pembelajaran;
10.
Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
4. Model PPSI ( Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional )
Model PPSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk
mendudkung pelaksanaan kurikulum 1975.PPSI berfungsi untuk mengefektifkan
perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis.PPSI terdiri
dari 5 tahap yakni :
1.
Merumuskan tujuan
2.
Mengembangkan alat evaluasi
3.
Mengembangkan kegiatan belajar mengajar
4.
Mengembangkan program kegiatan pembelajaran
5.
Pelaksanaan program
BAB
III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Pendidikan
merupakan masalah penting dalam kehidupan manusia, karena dengan adanya
pendidikan berarti akan melahirkan manusia yang kreatif dan mempunyai ide-ide
yang cemerlang dalam mengisi masa depan yang lebih maju. Potensi yang ada pada
diri manusia akan berkembang menjadi pribadi yang baik, apabila dimanfaatkan
dengan sebaik mungkin kearah yang positif. Oleh karena itu guru dituntut harus
mampu membuat program perencanaan pembelajaran dan mengerti desai pembelajaran
serta model-model desain instruksional.
2. SARAN
Dalam penulisan makalah
ini, penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak luput dari kesalahan
dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan
senantiasa penyusun nanti dalam upaya evaluasi diri. Akhirnya penulis hanya
bisa berharap, bahwa dibalik ketidaksempurnaan penulisan dan penyusunan makalah
ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah
bagi penulis, pembaca. Sehingga teman-teman yang akan menjadi seorang guru
profesional dibidang ilmu masing-masing untuk memberi saran
dan perbaikan terhadap makalah yang saya buat
ini, Sehinggga nantinya makalah ini bisa dijadikan sedikit acuan
dalam pembuatan desain pembelajaran disekolah kita
masing-masing.
DAFTAR
PUSTAKA
Husein,
Akhlan & Rahman. 1996. Perencanaan Pengajaran Bahasa. Jakarta:
Depdiknas.
Rohani, Ahmad, Pengelolaan
Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004.
Sanjaya, Wina, Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana
Prenada Media Group, 2008.
Supriatna, Dadang, Konsep
Dasar Desain Pembelajaran, PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN
TENAGA KEPENDIDIKAN TAMAN KANAK KANAK DAN PENDIDIKAN LUAR BIASA, 2009.
situshttp://adelukmanhakim13.blogspot.com/2011/12/model-desain-instruksional.html
Demikian makalah ini semoga manfaat
File bisa didownload
DISINI
MAKALAH yang bisa Anda baca !