Jumat, 25 Maret 2016

MACAM-MACAM KECERDASAN

MACAM - MACAM KECERDASAN

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Kecerdasan Emosional Guru
Pada STITMA Tuban

Dosen Pengampu : SITI NURJANAH, M.Pd.I.
 













Disusun oleh :

1. MOKH. ROKHIM 2. MUALLIMAH
3. NURIYATI 4. M. AGUS ULIN NUHA
5. JAUHAROTUL M. 6. SOLIKIN
7. M. NUR 8. EFFI DWI FARIDAWATI
9. MURNI 10. SYAHMATUN



SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MAKHDUM IBRAHIM (STITMA) TUBAN
PROGRAM PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
SEMESTER GENAP
TAHUN AKADEMIK 2015-2016


KATA PENGANTAR



            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan kami semua kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan makalah mata kuliah Kecerdasan Emosional Guru, yang  berjudul Macam-macam Kecerdasan.
            Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah memberikan bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu kami mengucapkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas budi baik yang tulus dan ihklas kepada semua pihak.
            Tak ada gading yang tak retak, untuk itu kami pun menyadari bahwa makalah yang telah kami susun dan kami kemas masih memiliki banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis maupun non-teknis. Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua pihak agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah ini terdapat hal-hal yang dianggap tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan.
Tuban,     Maret 2016
Penyusun
Kelompok  2


           








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………....
i
KATA PENGANTAR ……………………………………….…………….
ii
DAFTAR ISI …………………………………………….………………....
iii


I
PENDAHULUAN




A
Latar Belakang Masalah ………………….………………
1



B
Rumusan Masalah ................................................………
2



C
Tujuan …………………………………………………..
2


II
PEMBAHASAN




1.
Kecerdasan Intelektual ( IQ )  ……….….……..
3



2
Kecerdasan Emosionall ( EQ )  ……….….……..
5



3
Kecerdasan Spiritual ( SQ )  ……….….……..
7



4
Hubungan IQ, EQ, dan SQ
9



5
Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Spiritual
10


III
PENUTUP




1
Kesimpulan ………………………………………………..
11



2
Saran ………………………………………………..
11



Daftar Pustaka…………………………………………………..
12




  
BAB  I 
PENDAHULUAN



A.   LATAR BELAKANG
 Dalam rentang waktu dan sejarah yang panjang, manusia pernah sangat mengagungkan kemampuan otak dan daya nalar (IQ), bahkan sampai saat ini. Kemampuan berfikir dianggap sebagai primadona. Potensi diri yang lain diabaikan. Pola pikir dan cara pandang yang demikian telah melahirkan manusia terdidik dengan otak yang cerdas tetapi sikap, perilaku dan pola hidup sangat kontras dengan kemampuan intelektualnya. Banyak orang yang cerdas secara akademik tetapi gagal dalam pekerjaan dan kehidupan sosialnya. Mereka memiliki kepribadian yang terbelah. Di mana tidak terjadi integrasi antara otak dan hati. Kondisi tersebut pada gilirannya menimbulkan krisis multi dimensi yang sangat memprihatinkan.
Fenomena tersebut telah menyadarkan kita bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM selama ini, yakni terlalu mengedepankan IQ dengan mengabaikan EQ dan SQ. Oleh karena itu kondisi demikian sudah waktunya diakhiri, di mana pendidikan harus diterapkan secara seimbang, dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang sama kepada IQ, EQ dan SQ. Hal inilah yang melatarbelakangi pembuatan makalah ini, dimana seseorang harus mengenal IQ, EQ, SQ dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan. Oleh karena itu, kami mengangkat makalah dengan judul “Mengenal IQ, EQ, dan SQ, serta Penerapannya dalam Kehidupan” ditujukan semata-mata untuk memberikan gambaran bagaimana mengenal IQ, EQ, dan SQ, serta bagaimana menyeimbangkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
B.    RUMUSAN MASALAH
1.  Apakah arti Kecerdasan Intelegensi itu ?
2.  Apakah arti Kecerdasan Emosional itu ?
3.  Apakah arti Kecerdasan Spiritual itu ?
4.  Apakah hubungan IQ, EQ, dan SQ itu ?
5.  Seberapa pentingkah Kecerdasan Emosi dan Spiritual bagi manusia ?

C.    TUJUAN
1.    Dapat mengetahui arti Kecerdasan Intelegensi.
2.    Dapat mengetahui arti Kecerdasan Emosional.
3.    Dapat mengetahui arti Kecerdasan Spiritual.
4.    Dapat mengetahui hubungan IQ, EQ, dan SQ.
5.    Dapat mengetahui seberapa pentingkah Kecerdasan Emosi dan Spiritual bagi manusia.



BAB II
PEMBAHASAN

1.  Kecerdasan Intelektual (IQ)
                    Orang sering kali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Menurut David Wechslerinteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. sedangkan IQ atau singkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
                    Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
                    Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 %.
                    Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup.
                    IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak dengan IQ-nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.
Rumus kecerdasan umum, atau IQ yang ditetapkan oleh para ilmuwan adalah :
Usia Mental Anak
x 100 = IQ
Usia Sesungguhnya
Contoh : Misalnya anak pada usia 3 tahun telah punya kecerdasan anak-anak yang rata-rata baru bisa berbicara seperti itu pada usia 4 tahun. Inilah yang disebut dengan Usia Mental. Berarti IQ si anak adalah 4/3 x 100 = 133.
Interpretasi atau penafsiran dari IQ adalah sebagai berikut :
TINGKAT KECERDASAN
IQ
Genius
Di atas 140
Sangat Super
120 - 140
Super
110 - 120
Normal
90 -110
Bodoh
80 - 90
Perbatasan
70 - 80
Moron / Dungu
50 - 70
Imbecile
25-50
Idiot
0 - 25


2.  Kecerdasan Emosional (EQ)
       EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh Daniel Golleman. Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog, Goleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan pikiran emosional digerakkan oleh emosi.
       Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama teknis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.
       Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenal emosi diri sendiri, emosi orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola dengan baik emosi pada diri sendiri dalam berhubungan dengan orang lain (Golleman, 1999). Emosi adalah perasaan yang dialami individu sebagai reaksi terhadap rangsang yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Emosi tersebut beragam, namun dapat dikelompokkan kedalam kategori emosi seperti; marah, takut, sedih, gembira, kasih sayang dan takjub (Santrock, 1994).
       Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk pemilik EQ yang baik, baginya infomasi tidak hanya didapat lewat panca indra semata, tetapi ada sumber yang lain, dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra.
       Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya. Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. Tidak lain karena orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat .
       Di samping itu, kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self awamess (percaya diri), self motivation (memotivasi diri), self regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy, kemampuan memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat mengelola konflik dengan orang lain secara baik .
       Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas". Pusat dari EQ adalah "qalbu" . Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat , integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani.
3.  Kecerdasan Spiritual (SQ)
       Selain IQ, dan EQ, di beberapa tahun terakhir juga berkembang kecerdasan spiritual (SQ = Spritual Quotiens). Tepatnya di tahun 2000, dalam bukunya berjudul ”Spiritual Intelligence : the Ultimate Intellegence, Danah Zohar dan Ian Marshall mengklaim bahwa SQ adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan adanya kecerdasan ini, akan membawa seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakikinya. Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya, dan juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan juga ada kekurangannya. Intinya, bagaimana kita bisa melihat hal itu. Intelejensia spiritual membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, dan tentu saja dengan Sang Maha Pencipta.
       Denah Zohar dan Ian Marshall juga mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
       Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis) and Soul (Spiritual).
       Selain itu menurut Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001, IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’
       Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
       Mengenalkan SQ Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.
4.  Hubungan IQ, EQ, dan SQ
       Kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan intelektual (IQ) akan berfungsi maksimal jika saling berkaitan erat satu sama lain. Semua potensi kecerdasan itu akan terintegrasi apabila orientasi hidup kita adalah ‘ketauhidan’, menerima Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Namun jika orientasi hidup kita adalah materi, maka tiga potensi kecerdasan itu akan terpisah.
       Jika kita berorientasi pada materi, saat masalah datang pada kita, radar hati akan bereaksi menangkap sinyal emosi yang tidak terkendali, dan muncul rasa marah, sedih, kesal, dan takut. Sehingga, suara hati yang bersifat mulia itu (SQ) tidak mampu berkolaborasi dengan kecerdasan lainnya (EQ dan IQ).
       Saat suara hati tertutup, emosi akan memegang peranan. Emosilah yang akan memberi perintah pada kecerdasan intelektual (IQ). IQ selanjutnya akan menghitung, tapi berdasarkan dorongan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, iri hati dan kedengkian. Bayangkan apa yang akan terjadi kemudian.
       Ketika masalah atau tantangan muncul, radar hati langsung menangkap getaran sinyal. Ketika sinyal itu menyentuh dinding Tauhid, kesadaran Tauhid akan mengendalikan emosi. Hasilnya adalah emosi yang terkendali, seperti rasa tenang. Dengan emosi yang terkendali, God Spot akan terbuka dan bisa bekerja. Maka terdengarlah bisikan-bisikan ilahiah yang mengajak kepada sifat-sifat keadilan, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kreativitas, komitmen, kebersamaan, perdamaian, dan lainnya. Dengan dorongan sifat mulia itu, potensi kecerdasan intelektual bekerja optimal dengan melakukan perhitungan yang berlandaskan pada nilai-nilai mulia suara hati. Itulah integrasi antara EQ, IQ, dan SQ.
                   Ketiga kecerdasan tiu saling berhubungan satu sama lain. IQ akan mengatur kecerdasan intelektual dan membantu berpikir, menetapkan rencana masa depan dan kreatifitas. EQ mengatur kecerdasan emosi untuk memperlakukan orang lain dengan baik, adil, dan penuh perasaan. SQ mengatur kemampuan spiritual dan mempengaruhi keinginan. Ketiga kecerdasan tersebut akan menjadikan kita orang yang sukses jika kita dapat mengkombinasikannya dengan baik
4.  Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Spritual.
       Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa kecerdasan EQ adalah kecerdasan yang berhubungan dengan hati dan perasaan seseorang. Sedangkan kecerdasan EQ adalah suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. Kedua kecerdasan ini sangat penting bagi kehidupan manusia dalam mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Meskipun EQ seseorang tinggi, namun SQ-nya rendah maka orang tersebut akan merasa hidupnya hampa tak bermakna.
       Contoh sederhana tentang IQ, EQ, dan SQ adalah sebagai berikut: seorang siswa yang belajar dengan niat supaya menjadi pintar, adalah motifasi intelektual yang bersumber dari IQ. Namun jika siswa itu kemudian melanjutkan: setelah menjadi pintar, ia akan menggunakan kepintarannya untuk menolong sesama manusia, ini adalah motifasi emosional yang bersumber dari EQ. Sedangkan jika masih melanjutkan: karena belajar dan bermanfaat bagi manusia adalah wujud pengabdiannya kepada Alloh, maka inilah motifasi spiritual yang bersumber dari SQ. Inilah esensi tertinggi dalam hidup. Bahwa semua kebaikan yang kita lakukan harus diniatkan hanya untuk mencari ridho Alloh, supaya amalan-amalan itu tidak hanya bermanfaat di dunia saja namun juga di akhirat kelak. Jika IQ dan EQ hanya menjawab pertanyaan tentang apa yang difikirkan dan apa yang dirasakan, maka SQ ini menjawab pertanyaan yang jauh lebih dalam lagi, yaitu “Siapakah aku? Apa tujuan hidupku?”




BAB III
PENUTUP




A.   KESIMPULAN
 1.      IQ adalah kemampuan atau kecerdasan yang didapat dari hasil pengerjaan soal-soal atau kemampuan untuk memecahkan sebuah pertanyaan dan selalu dikaitkan dengan hal akademik seseorang. EQ adalah kemampuan untuk mengelola emosi atau perasaan. SQ adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini.
2.      IQ, EQ dan SQ pada diri setiap orang sebaiknya mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis) and Soul (Spiritual).

B.   SARAN
         Demikian makalah yang kami buat. Apabila ada isi dari makalah yang kurang baik dan benar, pemakalah mohon saran dan kritiknya dari pembaca demi kesempurnan makalah kami. Karena pemakalah adalah manusia biasa yang tak sempurna dan banyak salah.







DAFTAR PUSTAKA



Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual
Agus Nggermanto, Quantum Quotien
 Danah Zohar Dan Ian Marshal, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual
Adz-Zakiey, Hamdani Bakran. Prophetic Intelligence: Menumbuhkan Potensi Hakiki Insani melalui Pengembangan Kesehatan Ruhani. Yogyakarta: Islamika, 2005.
Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power. Jakarta: Arga, 2003.
_____. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ: Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001.
Baharuddin. Aktualisasi Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Chaplin, J.P. Kamus Lengkap Psikologi terj. Kartini Kartono. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008.
Hapidin, Kecerdasan Beragama Anak Usia Dini, http:// 64.blogspot.com (diakses tanggal 1 Oktober 2014).
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002.
Salati, Suriansyah. Hakikat IQ, EQ, dan SQ dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam. Banjarmasin: Antasari Press, 2009.
Ubaedy, AN. Jangan Cuma Berserah Diri: Temukan Takdir Anda dengan Menggali dan Melesatkan Bakat serta Potensi Diri. Yogyakarta: Sakanta Publisher, 2010.
Zohar, Danah dan Ian Marshall. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan terj. Rahmani Astuti, dkk. Bandung: Mizan, 2002.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya