MACAM - MACAM KECERDASAN
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Kecerdasan
Emosional Guru
Pada STITMA Tuban
Dosen Pengampu :
SITI NURJANAH, M.Pd.I.
Disusun oleh :
1. MOKH. ROKHIM 2. MUALLIMAH
3. NURIYATI 4. M. AGUS ULIN NUHA
5.
JAUHAROTUL M. 6. SOLIKIN
7.
M. NUR 8. EFFI DWI FARIDAWATI
9.
MURNI 10. SYAHMATUN
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MAKHDUM IBRAHIM
(STITMA) TUBAN
PROGRAM
PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
SEMESTER GENAP
TAHUN AKADEMIK
2015-2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan kami semua kekuatan
serta kelancaran dalam menyelesaikan makalah mata kuliah Kecerdasan Emosional
Guru, yang berjudul Macam-macam Kecerdasan.
Tersusunnya
makalah ini tentunya tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah
memberikan bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu
kami mengucapkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Pengasih dan Penyayang membalas budi baik yang tulus dan ihklas kepada semua
pihak.
Tak ada gading
yang tak retak, untuk itu kami pun menyadari bahwa makalah yang telah kami
susun dan kami kemas masih memiliki banyak kelemahan serta
kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis maupun non-teknis. Untuk itu
penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua pihak agar dapat
memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan
penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah ini terdapat
hal-hal yang dianggap tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan.
Tuban, Maret 2016
Penyusun
Kelompok 2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………....
|
i
|
|||||
KATA PENGANTAR ……………………………………….…………….
|
ii
|
|||||
DAFTAR ISI
…………………………………………….………………....
|
iii
|
|||||
I
|
PENDAHULUAN
|
|||||
A
|
Latar
Belakang Masalah ………………….………………
|
1
|
||||
B
|
Rumusan Masalah
................................................………
|
2
|
||||
C
|
Tujuan …………………………………………………..
|
2
|
||||
II
|
PEMBAHASAN
|
|||||
1.
|
Kecerdasan Intelektual ( IQ ) ……….….……..
|
3
|
||||
2
|
Kecerdasan Emosionall
( EQ ) ……….….……..
|
5
|
||||
3
|
Kecerdasan Spiritual
( SQ ) ……….….……..
|
7
|
||||
4
|
Hubungan IQ, EQ, dan SQ
|
9
|
||||
5
|
Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Spiritual
|
10
|
||||
III
|
PENUTUP
|
|||||
1
|
Kesimpulan ………………………………………………..
|
11
|
||||
2
|
Saran ………………………………………………..
|
11
|
||||
Daftar
Pustaka…………………………………………………..
|
12
|
|||||
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Dalam rentang
waktu dan sejarah yang panjang, manusia pernah sangat mengagungkan kemampuan
otak dan daya nalar (IQ), bahkan sampai saat ini. Kemampuan berfikir dianggap
sebagai primadona. Potensi diri yang lain diabaikan. Pola pikir dan cara
pandang yang demikian telah melahirkan manusia terdidik dengan otak yang cerdas
tetapi sikap, perilaku dan pola hidup sangat kontras dengan kemampuan
intelektualnya. Banyak orang yang cerdas secara akademik tetapi gagal dalam
pekerjaan dan kehidupan sosialnya. Mereka memiliki kepribadian yang terbelah. Di mana tidak
terjadi integrasi antara otak dan hati. Kondisi tersebut pada gilirannya
menimbulkan krisis multi dimensi yang sangat memprihatinkan.
Fenomena tersebut telah menyadarkan kita bahwa
kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir
semata, malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan
kecerdasan spiritual (SQ). Tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM
selama ini, yakni terlalu mengedepankan IQ dengan mengabaikan EQ dan SQ. Oleh
karena itu kondisi demikian sudah waktunya diakhiri, di mana pendidikan harus
diterapkan secara seimbang, dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang
sama kepada IQ, EQ dan SQ. Hal inilah yang melatarbelakangi pembuatan makalah
ini, dimana seseorang harus mengenal IQ, EQ, SQ dan kemudian menerapkannya
dalam kehidupan. Oleh karena itu, kami mengangkat makalah dengan judul “Mengenal
IQ, EQ, dan SQ, serta Penerapannya dalam Kehidupan” ditujukan semata-mata
untuk memberikan gambaran bagaimana mengenal IQ, EQ, dan SQ, serta bagaimana
menyeimbangkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah arti Kecerdasan Intelegensi itu ?
2. Apakah arti Kecerdasan
Emosional itu ?
3. Apakah arti Kecerdasan
Spiritual itu ?
4. Apakah hubungan IQ, EQ,
dan SQ itu ?
5. Seberapa pentingkah
Kecerdasan Emosi dan Spiritual bagi manusia ?
C. TUJUAN
1.
Dapat
mengetahui arti Kecerdasan Intelegensi.
2.
Dapat
mengetahui arti Kecerdasan Emosional.
3.
Dapat
mengetahui arti Kecerdasan Spiritual.
4.
Dapat
mengetahui hubungan IQ, EQ, dan SQ.
5.
Dapat
mengetahui seberapa pentingkah Kecerdasan Emosi dan Spiritual bagi manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Kecerdasan Intelektual
(IQ)
Orang
sering kali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal
kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Menurut David
Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak
secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara
efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu
kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena
itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus
disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses
berpikir rasional itu. sedangkan IQ atau singkatan dari Intelligence
Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan.
Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan
seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Intelligence
Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ
merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali
diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad
ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan
test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi,
sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada
masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap
individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap
masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan
untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Inti
kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa dalam
diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat
badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen
seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai
15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan.
Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan.
Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk
orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami
penggunaan sisa memori sekitar 94 %.
Tingkat
kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intellegentia
Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar.
Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan
sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan
(genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi
makanan yang cukup.
IQ
atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali
bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang
tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya
tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid,
disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan
gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia
mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si
anak dengan IQ-nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah,
penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.
Rumus kecerdasan umum, atau IQ yang
ditetapkan oleh para ilmuwan adalah :
Usia Mental Anak
|
x
100 = IQ
|
Usia Sesungguhnya
|
Contoh : Misalnya anak pada
usia 3 tahun telah punya kecerdasan anak-anak yang rata-rata baru bisa
berbicara seperti itu pada usia 4 tahun. Inilah yang disebut dengan Usia
Mental. Berarti IQ si anak adalah 4/3 x 100 = 133.
Interpretasi atau penafsiran dari
IQ adalah sebagai berikut :
TINGKAT
KECERDASAN
|
IQ
|
Genius
|
Di
atas 140
|
Sangat
Super
|
120
- 140
|
Super
|
110
- 120
|
Normal
|
90
-110
|
Bodoh
|
80
- 90
|
Perbatasan
|
70
- 80
|
Moron /
Dungu
|
50
- 70
|
Imbecile
|
25-50
|
Idiot
|
0
- 25
|
2. Kecerdasan Emosional (EQ)
EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan
oleh Daniel Golleman. Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan
psikolog, Goleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua
potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional
digerakkan oleh kemampuan intelektual atau “Intelligence Quotient” (IQ),
sedangkan pikiran emosional digerakkan oleh emosi.
Daniel Golemen, dalam
bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ
bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan
oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama teknis
itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ
mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan
keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya
sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan
bermanfaat.
Kecerdasan emosional
merupakan kemampuan individu untuk mengenal emosi diri sendiri, emosi orang
lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola dengan baik emosi pada diri
sendiri dalam berhubungan dengan orang lain (Golleman, 1999). Emosi adalah
perasaan yang dialami individu sebagai reaksi terhadap rangsang yang berasal
dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Emosi tersebut beragam, namun
dapat dikelompokkan kedalam kategori emosi seperti; marah, takut, sedih,
gembira, kasih sayang dan takjub (Santrock, 1994).
Dapat dikatakan bahwa
EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk
pemilik EQ yang baik, baginya infomasi tidak hanya didapat lewat panca indra
semata, tetapi ada sumber yang lain, dari dalam dirinya sendiri yakni suara
hati. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah
informasi yang didapat dari panca indra.
Substansi dari
kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian
disikapi secara manusiawi. Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan
orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap
bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar
bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya. Dapat dimengerti
kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. Tidak
lain karena orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat .
Di samping itu,
kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi,
kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena
itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal)
seperti self awamess (percaya diri), self
motivation (memotivasi diri), self regulation (mengatur diri),
dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy, kemampuan
memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat
mengelola konflik dengan orang lain secara baik .
Dalam bahasa agama , EQ
adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas". Pusat dari EQ adalah
"qalbu" . Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah
sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui
hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan
semangat , integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan
terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin
dan melayani.
3. Kecerdasan Spiritual (SQ)
Selain IQ, dan EQ, di beberapa tahun
terakhir juga berkembang kecerdasan spiritual (SQ = Spritual Quotiens).
Tepatnya di tahun 2000, dalam bukunya berjudul ”Spiritual Intelligence : the
Ultimate Intellegence, Danah Zohar dan Ian Marshall mengklaim bahwa
SQ adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini digunakan untuk
menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan adanya
kecerdasan ini, akan membawa seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakikinya.
Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya, dan juga bisa melihat apa potensi
dalam dirinya. Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan juga ada
kekurangannya. Intinya, bagaimana kita bisa melihat hal itu. Intelejensia
spiritual membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga,
dan tentu saja dengan Sang Maha Pencipta.
Denah Zohar dan Ian
Marshall juga mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk
menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan
perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Spiritual
Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang
diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan
kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja
tidak dapat menyelesaikan permasalahan, karena diperlukan keseimbangan pula
dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada
diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan
jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat
sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis)
and Soul (Spiritual).
Selain itu menurut
Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001,
IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang
di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi
‘pusat-diri’
Kecerdasan spiritual
ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal
diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik
kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi
yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling
sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa.
Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna
positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya.
Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan
melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
Mengenalkan SQ Pengetahuan dasar yang
perlu dipahami adalah SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan
spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun
dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak
mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki
nilai-nilai itu sendiri.
4. Hubungan IQ, EQ, dan SQ
Kecerdasan emosi (EQ),
kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan intelektual (IQ) akan berfungsi
maksimal jika saling berkaitan erat satu sama lain. Semua potensi kecerdasan
itu akan terintegrasi apabila orientasi hidup kita adalah ‘ketauhidan’,
menerima Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Namun jika orientasi hidup
kita adalah materi, maka tiga potensi kecerdasan itu akan terpisah.
Jika kita berorientasi
pada materi, saat masalah datang pada kita, radar hati akan bereaksi menangkap
sinyal emosi yang tidak terkendali, dan muncul rasa marah, sedih, kesal, dan
takut. Sehingga, suara hati yang bersifat mulia itu (SQ) tidak mampu
berkolaborasi dengan kecerdasan lainnya (EQ dan IQ).
Saat suara hati
tertutup, emosi akan memegang peranan. Emosilah yang akan memberi perintah pada
kecerdasan intelektual (IQ). IQ selanjutnya akan menghitung, tapi berdasarkan
dorongan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, iri hati dan kedengkian. Bayangkan
apa yang akan terjadi kemudian.
Ketika masalah atau
tantangan muncul, radar hati langsung menangkap getaran sinyal. Ketika sinyal
itu menyentuh dinding Tauhid, kesadaran Tauhid akan mengendalikan emosi.
Hasilnya adalah emosi yang terkendali, seperti rasa tenang. Dengan emosi yang
terkendali, God Spot akan terbuka dan bisa bekerja. Maka terdengarlah
bisikan-bisikan ilahiah yang mengajak kepada sifat-sifat keadilan, kasih
sayang, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kreativitas, komitmen,
kebersamaan, perdamaian, dan lainnya. Dengan dorongan sifat mulia itu, potensi
kecerdasan intelektual bekerja optimal dengan melakukan perhitungan yang
berlandaskan pada nilai-nilai mulia suara hati. Itulah integrasi antara EQ, IQ,
dan SQ.
Ketiga
kecerdasan tiu saling berhubungan satu sama lain. IQ akan mengatur kecerdasan
intelektual dan membantu berpikir, menetapkan rencana masa depan dan
kreatifitas. EQ mengatur kecerdasan emosi untuk memperlakukan orang lain dengan
baik, adil, dan penuh perasaan. SQ mengatur kemampuan spiritual dan
mempengaruhi keinginan. Ketiga kecerdasan tersebut akan menjadikan kita orang
yang sukses jika kita dapat mengkombinasikannya dengan baik
4. Pentingnya Kecerdasan
Emosi dan Spritual.
Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa
kecerdasan EQ adalah kecerdasan yang berhubungan dengan hati dan perasaan
seseorang. Sedangkan kecerdasan EQ adalah suatu kemampuan manusia yang
berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih
bermakna. Kedua kecerdasan ini sangat penting bagi kehidupan manusia dalam
mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Meskipun EQ seseorang tinggi,
namun SQ-nya rendah maka orang tersebut akan merasa hidupnya hampa tak
bermakna.
Contoh sederhana tentang IQ, EQ, dan SQ adalah sebagai berikut: seorang
siswa yang belajar dengan niat supaya menjadi pintar, adalah motifasi
intelektual yang bersumber dari IQ. Namun jika siswa itu kemudian melanjutkan:
setelah menjadi pintar, ia akan menggunakan kepintarannya untuk menolong sesama
manusia, ini adalah motifasi emosional yang bersumber dari EQ. Sedangkan jika
masih melanjutkan: karena belajar dan bermanfaat bagi manusia adalah wujud
pengabdiannya kepada Alloh, maka inilah motifasi spiritual yang bersumber dari
SQ. Inilah esensi tertinggi dalam hidup. Bahwa semua kebaikan yang kita lakukan
harus diniatkan hanya untuk mencari ridho Alloh, supaya amalan-amalan itu tidak
hanya bermanfaat di dunia saja namun juga di akhirat kelak. Jika IQ dan EQ
hanya menjawab pertanyaan tentang apa yang difikirkan dan apa yang dirasakan,
maka SQ ini menjawab pertanyaan yang jauh lebih dalam lagi, yaitu “Siapakah
aku? Apa tujuan hidupku?”
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. IQ
adalah kemampuan atau kecerdasan yang didapat dari hasil pengerjaan
soal-soal atau kemampuan untuk memecahkan sebuah pertanyaan dan selalu
dikaitkan dengan hal akademik seseorang. EQ adalah kemampuan untuk mengelola
emosi atau perasaan. SQ adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai
perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat
makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini.
2. IQ, EQ dan SQ pada diri
setiap orang sebaiknya mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan
kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat
dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind
(Psikis) and Soul (Spiritual).
B. SARAN
Demikian
makalah yang kami buat. Apabila ada isi dari makalah yang kurang baik dan
benar, pemakalah mohon saran dan kritiknya dari pembaca demi kesempurnan
makalah kami. Karena pemakalah adalah manusia biasa yang tak sempurna dan
banyak salah.
DAFTAR
PUSTAKA
Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan
Spritual
Agus Nggermanto, Quantum Quotien
Danah Zohar Dan Ian Marshal, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan
Spritual
Adz-Zakiey,
Hamdani Bakran. Prophetic Intelligence: Menumbuhkan Potensi Hakiki Insani
melalui Pengembangan Kesehatan Ruhani. Yogyakarta: Islamika, 2005.
Agustian,
Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power. Jakarta: Arga, 2003.
_____. Rahasia
Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ: Emotional Spiritual
Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga Wijaya
Persada, 2001.
Baharuddin. Aktualisasi
Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Chaplin,
J.P. Kamus Lengkap Psikologi terj. Kartini Kartono. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2008.
Hapidin, Kecerdasan
Beragama Anak Usia Dini, http:// 64.blogspot.com (diakses tanggal 1
Oktober 2014).
Mujib,
Abdul dan Jusuf Mudzakir. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2002.
Salati,
Suriansyah. Hakikat IQ, EQ, dan SQ dalam Perspektif Pendidikan Agama
Islam. Banjarmasin: Antasari Press, 2009.
Ubaedy, AN. Jangan
Cuma Berserah Diri: Temukan Takdir Anda dengan Menggali dan Melesatkan Bakat
serta Potensi Diri. Yogyakarta: Sakanta Publisher, 2010.
Zohar,
Danah dan Ian Marshall. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam
Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan terj. Rahmani
Astuti, dkk. Bandung: Mizan, 2002.
Demikian makalah in semoga bermanfaat
MAKALAH yang bisa Anda baca !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya