Jumat, 25 Maret 2016

PERENCANAAN PEMBELAJARAN

PERENCANAAN PROGRAM PEMBELAJARAN DAN MODEL DESAIN PEMBELAJARAN
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Perencanaan dan Desain Pembelajaran MI
Pada STITMA Tuban

Dosen Pengampu : NINIK HIDAYATI, S.Pd.I., M.Pd.
 


















Disusun oleh :

1. MOKH. ROKHIM 2. MUALLIMAH
3. NURIYATI 4. M. AGUS ULIN NUHA
5. JAUHAROTUL M. 6. SOLIKIN
7. M. NUR 8. EFFI DWI FARIDAWATI
9. MURNI 10. SYAHMATUN



SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MAKHDUM IBRAHIM (STITMA) TUBAN
PROGRAM PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
SEMESTER GENAP
TAHUN AKADEMIK 2015-2016
BAB I
PENDAHULUAN



A.   Latar Belakang

            Menyusun perencanaan dan desain pembelajaran, merupakan langkah penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif. Oleh karena itu kami rasa perlu memahami hakikat dari perencanaan pembelajaran sebagai pengenalan awal  sebelum Kita menyusun rencana pembelajaran bagi peserta didik Kita.
Dalam makalah ini, kami mengupas hal-hal yang berkaitan dengan hakikat perencanaan pembelajaran dan desain instruksional. Kami berharap makalah ini dapat membantu kita yang ingin memahami lebih dalam hakikat dari perencanaan pembelajaran.
B.  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari perencanaan pembelajaran ?
2.      Apa manfaat perencanaan pembelajaran ?
3.      Apa Pengertian Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran ?
4.      Apa Dasar Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran ?
5.      Apa Pengertian Desain Pembelajaran ?
6.      Apa Pengertian Desain Instruksional ?
7.      Sebutkan Model-model Desain Instruksional ?
C.   Tujuan Pembahasan

1.      Untuk mengetahui pengertian dari perencanaan pembelajaran ?
2.      Untuk mengetahui Pengertian Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran ?
3.      Untuk mengetahui Pengertian Desain Pembelajaran ?
4.      Untuk mengetahui Pengertian Desain Instruksional ?
5.      Untuk mengetahui Model-model Desain Instruksional ?

BAB II
PEMBAHASAN



1.   PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A.  Pengertian
Menurut Wina Sanjaya ( 2008:23 ) pertama,  perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua, pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerjasama antar guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensi yang bersumber dari diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada diluar diri siswa seperti lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagai upaya mencapai tujuan belajar tersebut.
Dari pendapat diatas maka kami menyimpulkan perencanaan pembelajaran adalah penentuan tujuan dan menetapkan langkah-langkah untuk mengembangkan minat, bakat dan kemampuan dasar serta potensi akademik yang ada didalam diri peserta didik sebagai tujuan utama dari perencanaan pembelajaran.
B.  Pentingnya Perencanaan Pembelajaran
Bagi seorang profesional, merencanakan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab profesinya merupakan tahap yang tidak boleh ditinggalkan. Menurut Deshimer ( dalam Wina Sanjaya, 2008: 30 ).
Perencanaan sangat penting sehingga dibutuhkan dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal berikut :
Pertama, pembelajaran adalah proses yang bertujuan.
Kedua, pembelajaran adalah proses kerja sama.
Ketiga, proses pembelajaran adalah proses yang kompleks.
Keempat, proses akan lebih efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana prasarana yang ada termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar.
C.  Manfaat Perencanaan Pembelajaran
a.    Dengan perencanaan yang matang dan akurat, akan dapat diprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan dicapai.
b.    Sebagai alat untuk memecahkan masalah.
c.    Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat.
d.    Perencanaan akan membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis.
2.   PENGEMBANGAN PROGRAM PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A.  Pengertian Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran
            Pengembangan mengandung pengertian cara membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif, dan sebagainya (Husein dan Rahman,1997:28). Selanjutnya pengembangan sistem mengandung maksud cara membuat penjabaran, pelengkapan komponen sistem agar setiap komponen tumbuh (dalam Husein dan Rahman,1997:28). Seterusnya Ely mengemukakan pendapatnya bahwa pengembangan sistem pembelajaran berarti suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pembelajaran agar mendapat pemecahan yang teruji validitasnya, dan praktis bisa dilaksanakan (dalam Husein dan Rahman,1997:28).
            Istilah yang berhubungan dengan pengembangan pembelajaran ialah sistem instruksional dan disain instruksional. Menurut Baker (dalam Husein dan Rahman,1997:28), sistem instuksional adalah semua materi (konsep) pembelajaran dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan yang sebenarnya. Adapun yang dimaksud dengan disain instuksional adalah adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan serta pengembangan teknik mengajar dan materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam kegiatan ini termasuk pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan evaluasi hasil belajar (Briggs dalam Husein dan Rahman,1997:28).
            Jadi dapat disimpulkan bahwa antara pengembangan program perencanaan pembelajaran dengan  sistem instruksional dan desain instruksional ada kesamaan dan keterkaitan. Pengembangan program perencanaan pembelajaran menekankan pada proses yang sistematis dan logis. Sistem instruksional menekankan pada materi dan metode; dan desain instruksional menekankan pada kebutuhan, tujuan, teknik, materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Keterkaitan ini mengarah pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu tujuan pembelajaran.
B.  Dasar Pengembangan Program Perencanaan Pembelajaran
                        Pengembangan system perencanaan pembelajaran didasarkan atas empiris dan prinsip yang telah teruji.
1.  Empiris
Pengembangan berdasarkan empiris berarti pengembangan yang berdasarkan pengalaman. Untuk pemerolehan pengalaman, banyak kegiatan yang telah dilakukan orang. Dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain dapat kita jadikan dasar untuk mengembangkan program perencanaan pembelajaran.
 2.  Prinsip yang Telah Teruji
Prinsip yang telah teruji senantiasa melalui langkah prosedur yang sistematis, pengamatan yang tepat, dan percobaan terkontrol.
a. Prosedur yang Sistematis
Prosedur yang dimaksud adalah suatu tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Aktivitas ini dilaksanakan langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu problem. Sistematis berarti satu langkah dengan langkah lainnya berhubungan saling berpengaruh, saling mendukung yang memungkinkan aktivitas itu berjalan lancar. Misalnya menentukan tujuan sampai pada evaluasi.
b. Pengamatan yang Tepat
Hasil pengamatan yang terkontrol dapat dijadikan dasar pengembangan sistem perencanaan pembelajaran.  Hal ini memungkinkan karena pengamatan adalah pengawasan terhadap perbuatan (kegiatan, keadaan) orang lain; penelitian, perbuatan mengamati dengan penuh. Hasil pengamatan yang relevan diantaranya ialah pengamatan terhadap kebutuhan siswa dalam kemampuan menulis. Kesimpulan hasil pengamatan dapat dijadikan dasar pengembangan program perencanaan, yaitu diantaranya dalam hal perencanaan tujuan, bahan, teknik, media/alat dan evaluasi.
c. Percobaan Terkontrol
Percobaan tergolong kepada kegiatan penelitian. Percobaan yang dapat dijadikan dasar pengembangan sistem perencanaan pembelajaran ialah percobaan yang terkontrol. Ilustrasi tentang tingkat perkembangan kemampuan berpidato dua kelompok warga belajar keturunan asing. Kelompok pertama diberi pelajaran dengan menggunakan metode elektrik dan metode terjemahan dengan dibantu media video kaset dapat berpidato dengan frekuensi kata rata-rata 100 entri sedangkan kelompok kedua dengan menggunakan metose elektrik, dan metode terjemahan tanpa  dibantu media video kaset dapat berpidato dengan frekuensi kata rata-rata 500 entri. Nantinya akan diperoleh kesimpulan bahwa pengajaran Bahasa Indonesia bagi orang asing dengan menggunakan metode elektrik, dan metode terjemahan dengan dibantu media video kaset lebih baik daripada dengan menggunakan metode elektrik, dan metode terjemahan dengan tanpa dibantu vieo kaset. Hal ini dapat dijadikan rekomendasi terhadap dasar pengembangan sistem perencanaan pembelajaran.
3.   HAKIKAT DESAIN PEMBELAJARAN
A.  Pengertian Desain Pembelajaran
            Desain adalah sebuah istilah yang diambil dari kata design yang berarti perencanaan atau rancangan. Ada pula yang mengartikan dengan “Persiapan”. Di dalam ilmu manajemen pendidikan atau ilmu administrasi pendidikan, perencanaan disebut dengan istilah planning yaitu “Persiapan  menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu”. Herbert Simon (Dick dan Carey, 2006), mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah. Tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia.
                        Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan. Melalui suatu desain orang bisa melakukan langkah-langkah  yang sistematis untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Dengan demikian suatu desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespons kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
                        Dalam arti luas, pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) denga peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan.Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran.
                        Pembelajaran juga diartikan dengan usaha untuk memberdayakan semua potensi anak didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran harus mampu mendorong untuk terbentuknya kemampuan, yaitu mengetahui, memahami, melakukan sesuatu dan mengaktualisasikan diri.
                        Desain pembelajaran sendiri menurut Shambaugh (2006) yang dikutip oleh Wina Sanjaya “Suatu desain pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran kemudian berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut.” Sejalan dengan pengertian di atas, Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, di mana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang. 
4.    DESAIN INTRUKSIONAL
 A. Pengertian Desain Intruksional

            Intruksional berasal dari kata intruction yang berarti pengajaran, pelajaran, atau bahkan perintah/intruksi. Menurut Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH intruksinal berarti memberi pengetahuan/informasi khusus dengan maksud melatih berbagai bidang pengetahuan, dalam bidang pendidkan intruksional berarti pengajaran/pelajaran. Menurut Ade Lukman S.Pd.I desaininstruksional adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Hasil akhir dari pengembangan instruksional ialah suatu sistem instruksional, yaitu materi dan strategi belajar mengajar yang dikembangkan secara empiris dan konsisten untuk dapat mencapai tujuan instruksional tertentu.
       Desain instruksional ini terdiri dari seperangkat kegiatan yang meliputi perencanaan, pengembangan, dan evaluasi terhadap sistem instruksional yang sedang didesain, sehingga setelah mengalami beberapa kali revisi, sistem instruksional tersebut dapat memuaskan hati pendesainnya. Dalam konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan.
       Desain Instruksional sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan pendekatan sistem Instruksional. Pendekatan sistem dalam Instruksional lebih produktif untuk semua tujuan Instruksional, di mana setiap komponen bekerja dan berfungsi untuk mencapai tujuan Instruksional. Komponen seperti instruktur, peserta didik, materi, kegiatan Instruksional, sistem penyajian materi, dan kinerja lingkungan belajar saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mewujudkan hasil Instruksional pebelajar yang dikehendaki.
       Dari beberapa pengertian diatas, maka desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yang di dalamnya mencakup rumusan tujuan yang harus dicapai atau hasil belajar yang diharapkan, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik, dan media yang dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.
B.  Model –Model Desain Instruksioanl

1.  Model Kemp
Kemp merupakan model yang membentuk siklus.Model system instruksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen mana seharusnya guru memulai proses pengembangan. Komponen – komponen dalam suatu desain instuksional menurut Kemp adalah :
1.      Hasil yang ingin dicapai
2.      Analisis tes mata pelajaran
3.      Tujuan khusus belajar
4.      Aktivitas belajar
5.      Sumber belajar
6.      Layanan pendukung
7.      Tes awal
8.      Karekteristik belajar
2.   Model Banathy
Model ini memandang bahwa penyusupan system instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas.Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni :
1.      Menganalisis dan merumuskan tujuan
2.      Merumuskan criteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
3.      Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar
4.      Merancang system
5.      Mengimplementasikan dan melakukan control kualitas system
6.      Mengadakan perbaiakn dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi
3.   Model Dick and Carey
Model dick and Carey harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara  optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah akhir dari desain ini adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi   formatif dan evaluasi sumatif. Langkah-langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah :
1.      Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran;
2.      Melaksanakan analisi pembelajaran;
3.      Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa;
4.      Merumuskan tujuan performansi;
5.      Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan;
6.      Mengembangkan strategi pembelajaran;
7.      Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran;
8.      Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif;
9.      Merevisi bahan pembelajaran;
10.  Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
4.   Model PPSI ( Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional )
Model PPSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendudkung pelaksanaan kurikulum 1975.PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis.PPSI terdiri dari 5 tahap yakni :
1.      Merumuskan tujuan
2.      Mengembangkan alat evaluasi
3.      Mengembangkan kegiatan belajar mengajar
4.      Mengembangkan program kegiatan pembelajaran
5.      Pelaksanaan program



BAB III
PENUTUP



1.  KESIMPULAN

          Pendidikan merupakan masalah penting dalam kehidupan manusia, karena dengan adanya pendidikan berarti akan melahirkan manusia yang kreatif dan mempunyai ide-ide yang cemerlang dalam mengisi masa depan yang lebih maju. Potensi yang ada pada diri manusia akan berkembang menjadi pribadi yang baik, apabila dimanfaatkan dengan sebaik mungkin kearah yang positif. Oleh karena itu guru dituntut harus mampu membuat program perencanaan pembelajaran dan mengerti desai pembelajaran serta model-model desain instruksional.      
2.  SARAN

       Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penyusun nanti dalam upaya evaluasi diri. Akhirnya penulis hanya bisa berharap, bahwa dibalik ketidaksempurnaan penulisan dan penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi penulis, pembaca. Sehingga teman-teman yang akan menjadi seorang guru profesional dibidang ilmu masing-masing untuk memberi saran dan  perbaikan terhadap makalah yang saya buat ini,  Sehinggga nantinya makalah ini bisa dijadikan sedikit acuan dalam pembuatan desain pembelajaran disekolah kita masing-masing.   






DAFTAR PUSTAKA





Husein, Akhlan & Rahman. 1996. Perencanaan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdiknas.
Rohani, Ahmad, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004.
Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008.
Supriatna, Dadang, Konsep Dasar Desain Pembelajaran, PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TAMAN KANAK KANAK DAN PENDIDIKAN LUAR BIASA, 2009.
situshttp://adelukmanhakim13.blogspot.com/2011/12/model-desain-instruksional.html


Demikian makalah ini semoga manfaat
File bisa didownload DISINI

MAKALAH yang bisa Anda baca !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya