EVALUASI PENCAPAIAN BELAJAR SISWA
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Evaluasi
Belajar Dini
Pada STITMA Tuban
Dosen Pengampu :
NINIK HIDAYATI, S.Pd.I., M.Pd.
Disusun oleh :
1. MOKH. ROKHIM 2. MUALLIMAH
3. NURIYATI 4. M. AGUS ULIN NUHA
5.
JAUHAROTUL M. 6. SOLIKIN
7.
M. NUR 8. EFFI DWI FARIDAWATI
9.
MURNI 10. SYAHMATUN
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MAKHDUM IBRAHIM
(STITMA) TUBAN
PROGRAM
PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
SEMESTER GENAP
TAHUN AKADEMIK
2015-2016
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Evaluasi pencapaian belajar siswa
merupakan salah satu kegiatan yang merupakankewajiban bagi setiap guru atau
pengajar. Dikatakan kewajiban karena setiap pengajar pada akhirnya harus
dapat memberikan informasi kepada lembaganya atau kepada siswa itu sendiri.
bagaimana dan sampai di mana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai
siswa tentang materi dan keterampilanketerampilan mengenai mata ajaran yang
telah diberikannya.
Perlu ditekankan di sini bahwa
evaluasi pencapaian belajar siswa tidak hanya menyangkut aspek-aspek
kognitifnya, tetapi juga mengenai aplikasi atau performance, aspek
afektif yang menyangkut sikap serta internalisasi nilai-nilai yang perlu
ditanamkan dan dibina melalui mata ajaran atau mata kuliah yang telah
diberikannya.
Pada masa-masa yang lalu, dan
bahkan hingga kini, masih banyak terdapat kekeliruan pendapat tentang fungsi
penilaian pencapaian belajar siswa. Banyak lembaga pendidikan ataupun
pengajar - secara sadar atau tidak
sadar -- yang menganggap fyngsi penilaian itu semata-mata
sebagai mekanisme untuk menyeleksi siswa atau mahasiswa dalam kenaikan kelas
atau kenaikan tingkat, dan sebagai alat seleksi kelulusan pada akhir
tingkat program tertentu.
Adapun fungsi penilaian yang kita
hendaki di samping sebagai. alat seleksi dan mengklasifikasi, juga
sebagai sarana untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa atau
mahasiswa secara maksimal. Dengan kata lain, penilaian pencapaian belajar
siswa atau mahasiswa tidak hanya merupakan suatu proses untuk
mengklasifikasikan.keberhasilan dan kegagalan dalam belajar (penilaian
sumatif), tetapi juga - dan ini sangat penting - untuk
meningkatkan efisiensi dan keefektifan pengajaran (penilaian formatif).
Ada dua pandangan yang sangat
merugikan keefektifan dan kemurnian fungsi penilaian seperti dimaksud di atas:
1. Anggapan
bahwa untuk melaksanakan penilaian itu tidak perlu adanya persiapan dan
latihan yang eksplisit sehingga siapa saja dapat melakukannya.
2. Anggapan
bahwa penilaian pencapaian belajar siswa atau mahasiswa merupakan kegiatan
yang lepas, atau setidak-tidaknya merupakan kegiatan "penutup"
dari proses kegiatan belajar-mengajar.
Oleh karena itu, khusus dalam bab
ini kami ingin mengemukakan beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan
di dalam menyusun tes hasil belajar oleh setiap guru, dan sehubungan
dengan itu pula adanya pemahaman tentang dua pendekatan di dalam
menganalisis dan menginterpretasikan hasil tes, yaitu pendekatan norm-referenced
evaluation dan criterion-referenced evaluation.
Di samping itu, untuk sekadar
memberikan bimbingan kepada para guru dan calon guru bagaimana menyusun tes
hasil belajar yang baik dalam arti sesuai dengan tujuan instruksional yang
telah dirumuskan, dalam bab ini juga diuraikan secara singkat langkah-langkah
menyusun tes hasil belajar dan cara membuat tabel spesifikasi.
B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian Evaluasi?
b. Bagaimana prinsip-prinsip dasar tes hasil
belajar?
c. Apa yang dimaksud penilaian formatif dan sumatif?
d. Bagaimana perencanaan dalam menyusun tes?
e. Bagaimana evaluasi pencapaian hasil belajar siswa?
C. Tujuan Pembahasan
a. Agar penyaji dan pembaca dapat
mengetahuai pengertian Evaluasi.
b. Agar penyaji dan pembaca dapat
memahami prinsip-prinsip dasar tes hasil belajar.
c. Agar penyaji dan pembaca dapat
mengetahui penilaian formatif dan sumatif.
d. Agar penyaji dan pembaca dapat
mengetahui perecanaan dalam menyusun tes.
e. Agar penyaji dan pembaca dapat memahami
evaluasi pencapaian hasil belajar.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN EVALUASI
Evaluasi adalah suatu kegiatan
yang mengukur dan memberi nilai secara obyektif dan valid, di mana beberapa
besar manfaat pelayanan yang telah dicapai berdasarkan tujuan dari obyek yang
seharusnya diberikan dan yang nyata apakah hasil-hasil dalam pelaksanaan telah
efektif dan efisien.
B. PRINSIP-PRINSIP DASAR TES HASIL BELAJAR
Ada beberapa prinsip dasar yang
perlu diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut
benar-benar dapat mengukur tujuan pelajaran yang telah diajarkan, atau
mengukur kemampuan dan atau keterampilan siswa yang diharapkan setelah siswa
menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu.
Tes tersebut hendaknya
dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang
telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. Dalam bab yang
lalu telah disinggung bahwa tujuan merupakan landasan dan sekaligus sebagai penentuan
kriteria penilaiannya. Jika tujuan tidak jelas, maka penilaian terhadap hasil
belajar pun akan tidak terarah sehingga akhirnya hasil penilaian tidak
mencerminkan isi pengetahuan atau keterampilan siswa yang sebenarnya. Dengan
kata lain, hasil penilaian menjadi tidak valid, yaitu tidak mengukur apa yang
sebenarnya harus diukur. Oleh karena itu, untuk dapat menyusun tes yang
baik, setiap guru harus dapat merumuskan tujuan dengan jelas, terutama tujuan
instruksional khusus (TIK) sehingga memudahkan baginya untuk menyusun
soal-soal tes yang relevan untuk mengukur pencapaian tujuan yang telah
dirumuskannya.
Mengukur sampel yang representatif
dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan. Kita telah
mengetahui bahwa bahan pelajaran yang telah diajarkan dalam jangka waktu
tertentu - baik dalam satu jam pertemuan ataupun dalam beberapa jam
pertemuan -tidak mungkin dapat kita ukuc atau kita nilai keseluruhannya.
Atau dengan kata lain, tidak mungkin hasil-hasil belajar yang diperoleh siswa
dalam jangka waktu tertentu dapat kita ungkapkan seluruhnya. Oleh karena
itu, dalam rangka mengevaluasi hasil belajar siswa, kita hanya dapat mengambil
beberapa sampel hasil belajar yang dianggap penting dan dapat
"mewakili" seluruh performance yang telah diperoleh selama siswa
mengikuti suatu unit pengajaran. Dengan demikian, tes yang kita
susun haruslah mencakup soal-soal yang dianggap dapat mewakili
seluruh performance hasil belajar siswa, sesuai dengan tujuan
instruksional yang telah dirumuskan. Makin banyak bahan yang telah
diajarkan, makin sulit bagi guru untuk menentukan dan memilih soal-soal tes
yang benar-benar representatif. Oleh karena itu pula maka dianjurkan agar
penilaian dilakukan secara sedapat mungkin setiap akhir pelajaran atau setiap
selesai suatu unit bahan pelajaran tertentu. Di samping itu, untuk dapat
menyusun soal-soal tes yang benar-benar merupakan sampel yang representatif
dalam mengukur hasil belajar siswa, guru hendaknya menyusun terlebih
dulu label spesifikasi (blue print atau kisi-kisi) yang memuat
rincian topik atau subtopik dari bahan pelajaran yang telah diajarkan dan
penentuan jumlah serta jenis soal yang disesuaikan dengan tujuan khusus
dari setiap topik yang bersangkutan.
Mencakup bermacam-macam bentuk
soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan
sesuai dengan tujuan. Kita telah mempelajari bahwa tujuan pengajaran itu
bermacam-macam menurut jenis dan ting.kat kesukarannya. Hasil belajar dari
tiap-tiap topik bahan pelajaran tidak selalu sama. Dari Bloom kita mengenal
adanya hasil belajar yang berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif),
dan keterampilan (psikomotor); dan ketigajenis hasil belajar itu
masih dapat dirinci lagi menjadi bermacam-macam kemampuan yang perlu
dikembangkan di dalam setiap pengajaran. (Pelajari kembali Taxonomy of
Educational Objectives dari Bloom.)
Untuk dapat mengukur
bermacam-macam performance hasil belajar yang sesuai dengan
tujuan pengajaran yang diharapkan, diperlukan kecakapan menyusun berbagai
macam bentuk soal dan alat evaluasi. Untuk mengukur hasil belajar yang
berupa keterampilan, misalnya, tidak tepat kalau hanya menggunakan soal yang
berbentuk tes essay yang jawabannya hanya menguraikan, dan bukan
melakukan atau mempraktekkan sesuatu. Demikian pula untuk mengukur
kemampuan menganalisis suatu prinsip, tidak cocok jika digunakan bentuk soal
objektif yang hanya menuntut jawaban dengan mengingat atau recall.Setiap
jenis alat evaluasi dan setiap macam bentuk soal hanya cocok untuk mengukur
suatu jenis kemampuan tertentu. Oleh karena itu, penyusunan suatu tes
harus disesuaikan dengan jenis kemampuan hasil belajar yang hendak diukur
dengan tes tersebut.
Didesain sesuai dengan kegunaannya
untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kita mengenal bermacam-macam
kegunaan tes sesuai dengan tujuan masing-masing. Khususnya di dalam
evaluasi pendidikan yang menyangkut evaluasi hasil belajar, sedikitnya kita
mengenal empat macam kegunaan tes:
a. tes
yang digunakan untuk penentuan penempatan siswa dalam suatu jenjang atau jenis
program pendidikan tertentu (placement test),
b. tes
yang digunakan untuk mencari umpan balik (feedback) guna memperbaiki proses
belajar-mengajar bagi guru maupun siswa (test formatif),
c. tes
yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai di mana pencapaian siswa
terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan, dan selanjutnya untuk
menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang bersangkutan (tes
sumatif); dan
d. tes
yang bertujuan untuk mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa seperti latar
belakang psikologis, fisik, dan lingkungan sosial-ekonomi siswa (tes
diagnostik).
Masing-masing jenis tes tersebut
memiliki karakteristik tertentu, baik bentuk soal, tingkat kesukaran, maupun
cara pengolahan dan pendekatannya. Oleh karena itu, penyusunan dan
penyelenggaraan tes harus disesuaikan dengan tujuan dan fungsinya sebagai alat
evaluasi yang diinginkan.
Dibuat seandal (reliable) mungkin
sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik. Suatu alat evaluasi
dikatakan andal (reliable) jika alat tersebut dapat menghasilkan suatu
gambaran (hasil pengukuran) yang benar-benar dapat dipercaya. Suatu tes
dapat dikatakan andal (memiliki keandalan yang tinggi) jika tes
itu dilakukan berulang-ulang terhadap objek yang sama, hasilnya akan tetap
sama atau relatif sama. Perlu dikemukakan di sini bahwa suatu tes yang
andal belum tentu valid, akan tetapi, jika tes itu valid, sudah tentu juga
andal.
Digunakan untuk memperbaiki cara
belajar siswa dan cara mengajar guru. Pada prinsip nomor 4 tersebut di
atas telah diuraikan bahwa salah satu jenis tes adalah tes form
at if, yaitu tes yang berfungsi untuk mencari umpan
balik atau feedback yang berguna dalam usaha memperbaiki cars
mengajar yang dilakukan oleh guru dan cara belajar siswa. Hal ini dijadikan
suatu prinsip dalam penyusunan tes hasil belajar mengingat bahwa hingga kini
masih banyak para guru yang memandang tes hasil belajar itu hanya sebagai
alat evaluasi tahap akhir dari suatu proses belajar yang dialami siswa selama
jangka waktu tertentu sehingga fungsi formatif dari tes hasil belajar
selalu diabaikan. Dengan demikian, sesuai dengan prinsip ini, penyusunan dan
penyelenggaraan tes hasil belajar yang dilakukan guru, di samping untuk
mengukur sampai di mana keberhasilan siswa dalam belajar (evaluasi sumatif),
sebaiknya dipergunakan pula untuk men cari informasi yang berguna untuk
memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri (evaluasi
formatif).
C. PENILAIAN FORMATIF DAN PENILAIAN SUMATIF
1. Penilaian
formatif
Penilaian formatif adalah kegiatan
penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang
selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses
belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan. Jadi, sebenarnya
penilaian formatif itu tidak hanya dilakukan pada tiap akhir pelajaran, tetapi
bisa juga ketika pelajaran sedang berlangsung. Misalnya, ketika guru sedang
mengajar, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mengecek atau
mendapatkan informasi apakah siswa telah memahami apa yang diterangkan guru;
jika ternyata masih banyak siswa yang belum mengerti, tindakan
guru selanjutnya ialah mengubah atau memperbaiki cara mengajarnya sehingga
benar-benar dapat dipahami dan diserap oleh siswa. Contoh lain: setelah
pelajaran selesai guru memberi tugas kepada para siswa untuk dikerjakan di
luar jam pelajaran/di rumah. Setelah diperiksa, dan ternyata masih banyak
siswa yang salah mengerjakan tugas tersebut, maka guru berusaha menerangkan
kembali pelajaran itu.
Dari contoh-contoh tersebut, jelas
bahwa penilaian formatif tidak hanya berbentuk tes tertulis dan hanya
dilakukan pada setiap akhir pelajaran, tetapi dapat pula berbentuk
pertanyaan-pertanyaan lisan atau tugas-tugas yang diberikan selama pelajaran
berlangsung ataupun sesudah pelajaran selesai. Dalam hubungan ini maka
pretes dan post-tes yang biasa dilakukan oleh guru termasuk dalam penilaian
formatif.
2. Penilaian
sumatif
Penilaian sumatif adalah
penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai di mana
penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah
dipelajarinya selama jangka waktu tertentu. Adapun fungsi dan tujuannya ialah
untuk menentukan apakah dengan nilai yang diperolehnya itu siswa dapat
dinyatakan lulus atau tidak lulus. Pengerian lulus dan
tidak lulus di sini dapat berarti: dapat tidaknya siswa melanjutkan ke modul
berikutnya; dapat tidaknya seorang siswa mengikuti pelajaran pada semester
berikutnya; dapat tidaknya seorang siswa dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi;
dapat tidaknya seorang siswa dinyatakan lulus/tamat dari sekolah yang
bersangkutan; atau dapat tidaknya seorang siswa diterima di sekolah yang
lebih tinggi.
Dari apa yang telah dikemukakan,
jelas kiranya bahwa penilaian sumatif tidak hanya merupakan penilaian yang
dilaksanakan pada setiap akhir caturwulan atau setiap akhir Semester,
tetapi juga dilaksanakan misalnya pada setiap akhir modul (bagi pengajaran
yang menggunakan sistem modul), setiap akhir tahun ajaran, Evaluasi Belajar
Tahap Akhir (EBTA atau Ebtanas), dan ujian masuk Perguruan Tinggi yang
terkenal dengan sebutan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru).
Bahkan penilaian sumatif termasuk pula penilaian yang dilakukan guru atau
dosen pada tahap-tahap tertentu selama caturwulan atau semester.
Penilaian ini biasa disebut tes subsumatif atau tes
unit, dengan maksud untuk membedakannya dengan tes surnatif yang
dilakukan pada setiap akhir caturwulan atau akhir Semester. Nilai hasil tes
subsumatif dan tes sumatif inilah yang boleh diperhitungkan untuk menentukan
nilai rapor atau ijazah atau kartu hasil studi mahasiswa.
D. PERENCANAAN DALAM MENYUSUN TES
Dalam merencanakan
penyusunan achievement test diperlukan adanya langkahlangkah yang
harus diikuti secara sistematis sehingga dapat diperoleh tes yang lebih
efektif. Para ahli penyusun tes maupun para pengajar (classroom
teachers) umumnya telah menyepakati langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan/merumuskan
tujuan tes.
2. Mengidentifikasi
hasil-hasil belajar (learning outcomes) yang akan diukur dengan tes itu.
3. Menentukan/menandai
hasil-hasil belajar yang spesifik, yang merupakan tingkah laku yang dapat
diamati dan sesuai dengan TIK.
4. Merinci
mata pelajaran/bahan pelajaran yang akan diukur dengan tes itu.
5. Menyiapkan
tabel spesifikasi (semacam blueprint).
6. Menggunakan
tabel spesifikasi tersebut 'sebagai dasar penyusunan tes.
E. CIRI-CIRI DARI EMPAT
TIPE ACHIEVEMENT TESTS
1. Penilaian formatif
Yaitu penilaian
untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didiksetelah
menyelesaikan program dalam satuan materi poko suatu bidang study tertentu :
a. FungsiUntuk
memperbaiki proses pembelajaran kearah yang lebih baik dan efisienatau memperbaiki satuan atau rencana
pebelajaran.
b. TujuanUntuk
mengetahui hingga dimana penguasaan peserta didik tentang materi yang diajarkan
dalam satu rencana atau satuan pelajaran.
c. Aspek-aspek yang dinilai
Aspek-aspek
yang dinilai pada penailain formatif adalah : hasil kemajuan belajar siswa
yang ,meliputi : pengetahuan, keterampilan, sikap terhadap materi ajaragama
yang di sajikan.
2. Penilaian sumatif
Yaitu
penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik yang telah
selesai mengikuti pembelajaran dalam satu semester atau akhir tahun.
a. Fungsi
Untuk
mengetahui angka atau nilai murid setelah mengikuti program belajardalam satu
semster.
b. Tujuan
Untuk
mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik
setelahmelakukan program pembeljaran dalam satu semester, akhirtauhn atau
akhir program pembelajaran pada suatu unit pendidikan tertentu.
c. Aspek-aspek yang dinilai
Aspek-aspek
yang dinali ialah kemajuan jhasil belajar meliputi
: pengetahuan,keterampilan, sikap dan penguasaan murid tentang materi
pembelajaran yangdiberikan.
d. Waktu
PelaksanaanPenilain
ini dilaksanakan sebelum peserta didik mengikuti proses pembelajaran
permulaan atau peserta didik tersebut baru akan mengikuti pendidikandisuatu
tingkat tertentu.
3. Penilain penempatan (placement)
Peserta
didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar yang sesuaidengn kondisi peserta didik.
a. Fungsi
Untuk
mengetahui keadaan peserta didik sepintas lalu termasuk keadaanseluruh
pribadinya., peserta didik tersebut ditempatkan pada posisinya.
Umapamanya peserta didia berbadan kecil jangan di tempatkan di belakang,
tapi sebaiknya di depanagar tidak mengalami kesulitan dalam PBM.
b. Tujuan
Untuk
menempatkan peserta didik pada temapatnya yang
sebenar-benarnya, berdasarkan bakat, minat, kemampuan, kesanggupan, serta
keadaan diri peserta didik sehingga peserta didik tidak mengalami hambatan
dalam mengikuti pelajaran atau setap program bahan yang disajikan guru.
c. Aspek-aspek yang dinilai
Aspek-aspek
yang dinilai meliputi keadaan fisik dan psikologi, bakat, kemampuan,
pengetahuan, pegalaman keterampilan, sikap, dan aspek-aspek lain yang dianggap
perlu bagi kepentingan pendidikan peserta didik selanjutnya.
Kemungkinan penilaian ini dapat juga dilakukan setelah peserta didik
mengikuti pelajran selama satu semster, satu tahun sesuai dengan maksud
lembaga penidikan yang bersangkutan.
d. Waktu
Pelaksanaan Penilaian
ini sebaiknya dilaksanakan sebelum peserta didik menduduki kelastertentu
sewaktu penerimaan murid baru atau setelah naik kelas.
4. Penilaian Diagnostik
Yaitu
penilain yang dilakukan terhadap hasil penganalisisan tentang
keadaan belajar peserta didik baik merupakan kesulitan atau hambatan yang
ditemui dalam proses belajar.
a. Fungsi
Untuk
mengetahui masalah-masalah yang diderita atau mengganggu pesertadidik, sehingga
peserta didik mengalami kesulitan, hambatan, atau gangguan ketikamengikuti
program pembelajaran dalam suatu bidang study. Kesulitan peserta didiktersebut
diusahakan pemecahannya.
b. Tujuan
Untuk membantu
kesulitan atau mengatasi hambatan yang dialami peserta didikwaktu mengikuti
kegiatan pembelajaran pada suatu bidang study atau keseluruhan program
pembelajaran.
c. Aspek-aspek yang dinilai
Aspek-aspek
yang dinilai, termasuk hasil belajar yang diperoleh murid,
latar belakang kehidupannya, serta semua aspek yang berkaitan dengan
kegiattan pembelajaran.
d. Waktu
pelaksanaanPelaksanaan
tes diagnostik ini, sesuai dengan keperluan pembinaan dari suatulembaga
pendidikan, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan para pesertadidiknya
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Evaluasi
adalah suatu kegiatan yang mengukur dan memberi nilai secara obyektif dan
valid, di mana beberapa besar manfaat pelayanan yang telah dicapai berdasarkan
tujuan dari obyek yang seharusnya diberikan dan yang nyata apakah hasil-hasil
dalam pelaksanaan telah efektif dan efisien.
Dari uraian
di atas dapat disimpulkan, bahwa perbedaan antara penilaian formatif dan
penilaian surnatif bukan terletak pada kapan/waktu tes itu dilaksanakan,
tetapi terutama pada fungsi dan tujuan tes/penilaian itu
dilaksanakan. Jika penilaian atau tes itu berfungsi dan bertujuan untuk
memperoleh umpan balik dan selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses
belajar-mengajar, maka penilaian itu disebut penilaian formatif. Tetapi
jika penilaian itu berfungsi dan bertujuan untuk mendapatkan informasi sampai
di mana prestasi atau penguasaan dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya
diperuntukkan bagipenentuan lulus tidaknya seorang siswa, maka penilaian itu
disebut penilaian sumatif.
Prinsip-prinsip
dasar tes hasil belajar yaitu, Mengukur secara jelas hasil belajar yang telah
ditetapkan sesuai tujuan instruksional, Mengukur sampel yang representatif
dai hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan, Mencakup
bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil
belajar, Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memeroleh hasil yang
diinginkan, Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah
diinterpretasikan dengan baik, dan Digunakan untuk memperbaiki cara
belajar dan mengajar.
Untuk dapat
merumuskan tujuan penyusunan tes dengan baik, seorang guru atau pengajar
perlu memikirkan apa tipe dan fungsi tes yang akan disusunnya sehingga
selanjutnya is dapat menentukan bagaimana karakteristik soal-soal yang
akan dibuatnya. Perlu diketahui bahwa tes itu mempunyai beberapa
fungsi, bergantung pada tipe atau kegunaannya. Diagram berikut ini
menunjukkan apa tipe dan fungsi tes serta
bagaimanaciri-ciri soal-soalnya.
Evaluasi
pencapaian hasil belajar siswa terwujud dengan memberikan tes kepada peserta
didik agar dapat mengetahui hasil perkembangan belajar siswa dari segi
kognitif, afektif, dan pesikomotorik peserta didik.
B. Saran
Setelah membaca tulisan bacaan diatas diharapkan pembaca dapat
mengetahui dan memahami pengertian evaluasi pencapaian hasil belajar siswa
sehingga bisa mengaplikasikan dengan baik dalam dunia pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
· Ngalim
purwanto, M, Drs, MP, Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran, PT
Remaja Rosdakarya. Bandung.1997
· Purwanto,
Dr, M. Pd, Evaluasi Hasil Belajar, PT Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
2009
· http://file.upi.edu/Direktori/C%20-%20FPBS/JUR.%20PEND.%20BAHASA%20JERMAN/195906231987031%20-%20SETIAWAN/EvaPem_2.pdf
Anas
nasution, Pengantar Evalusi Pendidikan , (PT. Grafindo Persada,
Jakarta,2005).
Ramayulis, Ilmu
Pendidikan Islam, (Kalam Mulia : Jakarta, 2002).
M.
Chabib Thoha, Teknik-teknik Evaluasi Pendidikan (PT. Raja Grafindo
: Jakarta,1990).
Silahkan download di bawah ini !
Demikian makalah ini semoga manfaat
MAKALAH yang bisa Anda baca !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya